Evaluasi Pemecatan Van Gaal

Evaluasi Pemecatan Van Gaal

Cuma dua hari semenjak mengantarkan MU merebut gelar Piala FA, Van Gaal dikeluarkan dari Old Trafford. Dengan sisa satu tahun kontrak, ia pun menempati catatan sebagai salah satu pelatih yang harus mengakhiri periode di klub secara permanen. Sudah sejak lama ia menuai kritikan dari banyak pihak terkait dengan catatannya yang sangat buruk di MU. Rumor pun beredar bahwa ia akan segera digantikan oleh Mourinho. Ternyata hal itu benar terjadi dan kini Van Gaal pergi dan merencanakan karir baru.

Pemecatan Van Gaal bukan hal yang mengejutkan. Namun jika kita evaluasi dari penampilannya selama di MU, memang ada sejumlah indikator yang membenarkan kebijakan dari para petinggi MU. Gaal terbukti gagal meneruskan tradisi klub yang dulu pernah ditakuti di seantero Eropa. MU dikenal sebagai sebuah tim tampil agresif dan menampilkan permainan menyerang. Singkatnya, sepakbola menyerang adalah ciri khas dari MU yang selama ini membekas di kenangan para pendukung dan musuhnya. Tapi kehadiran Gaal seolah menggerogoti ciri khas tersebut sampai nyaris tak kelihatan lagi. Gaal justru menghadirkan gaya permainan yang lamban dan lebih sering terlihat membosankan.

Sudah berkali-kali ia mendapatkan masukan dan rekomendasi dari orang-orang sekitarnya. Termasuk Ryan Giggs sebagai pemain legenda MU sekaligus asisten pelatih. Namun Gaal seolah tak peduli dan tetap bertahan dengan gaya permainannya. Akibatnya pun sangat jelas. Ia pasti akan dipecat dan itu sudah terbukti beberapa hari kemarin.

Gaal juga dicatat sebagai manajer yang tak punya konsep transfer pemain yang jelas. Ia sering menekankan bahwa pemain yang akan direkrut wajib memahami dan sesuai filosofinya. Tapi filosofi semacam apa, itu pun kurang jelas. Ia justru mendatangkan beberapa pemain tak jelas, misalnya Angel Di Maria yang notabene tak berfungsi padahal sudah dibayar mahal. Di Maria sendiri merupakan sosok penyerang utama yang seharusnya bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya. Tapi Gaal cuma menempatkan dirinya sebagai penyerang lapis kedua. Cuma satu musim ia bertahan, lalu akhirnya dijual ke PSG.

Kebiasaan buruk Van Gaal yang lain adalah doyan mengubah-ubah posisi pemain. Di Maria merupakan contoh pertama. Faktanya, kebiasaan tersebut ternyata juga dilakukan pada para pemain lainnya. Seorang gelandang harus main sebagai penyerang, dan sebagainya. Konsekuensinya adalah banyak pemain yang terpaksa duduk di bangku cadangan. Penyebabnya karena mereka tak bisa menyesuaikan diri dengan posisi baru yang ditetapkan oleh Gaal. Situasi tersebut kian mempersulit skuad MU karena banyak pemain cedera sementara pemain yang menggantikan pun tak sesuai dengan peran masing-masing. Sebuah situasi yang sangat fatal dalam sebuah tim.

Hal negatif lainnya dari Van Gaal adalah perseteruan abadinya dengan media. Ia memang kerap dipuji para pendukung MU karena selalu melancarkan kritik keras kepada media dan tak peduli dengan wacana yang diarahkan padanya. Tapi itu juga menjadi kesalahan yang fatal karena seorang manajer bagaimanapun juga butuh popularitas di lingkaran media. Ia dibandingkan dengan Mourinho yang tahu betul bagaimana memposisikan dirinya di antara lingkaran media dan para pendukung MU. Lebih buruknya lagi, Gaal punya kebiasaan menghina media dan berakibat lebih fatal. Semakin sering memusuhi media, maka nasibnya akan kian memburuk. Terbukti apa yang selama ini diprediksikan oleh kebanyakan media menjadi kenyataan. Gaal harus keluar dari MU dan mengakhiri karirnya di sana dengan tidak terhormat.

Be the first to comment

Leave a comment

Your email address will not be published.


*